Gak punya resolusi
Akhir tahun yang melelahkan karena lembur tutup tahun. Ditambah harus dinas ke luar kota. Bener-bener menguras tenaga dan pikiran. Sampai gak punya waktu nengok ke blog tercinta ini.
Beberapa waktu belakangan saya ditanyai tentang resolusi tahun ini. Kamu punya resolusi di tahun 2009 ini gak? Gak punya. Resolusi kamu di tahun ini apa? Gak tau.
Terus terang, saya gak pernah menyusun apa yang disebut resolusi itu. Gak pernah merencanakan harus begini dan harus begitu. Gak pesimis juga. Cuma, saya lebih suka menjalani hidup ini langkah demi langkah. Artinya, menjalani saja apa yang ada di depan mata atau melanjutkan apa yang sedang berlaku saat ini. Saya pikir itu lebih adil ketimbang saya merencanakan segala macam yang ingin saya raih tapi kemudian akhirnya gak bisa saya raih atau putus di tengah jalan.
Kadang terbersit target apa yang ingin saya raih di tahun ini. Tapi kemudian saya tau kalau ada batasan-batasan yang gak mudah untuk dilewati begitu saja. Saya gak ingin hal itu akan hanya merampas kemampuan saya untuk menikmati momen demi momen di dalam hidup. Apalagi kalau sampai lupa bersyukur untuk semua hal yang sederhana namun indah di dalam hidup ini.
Ikhlas saja, untuk semua kemungkinan terbaik dan terburuk. Agar saya tidak bernafsu untuk menang dan takut kalah. Berhasil atau gagal adalah persepsi yang relatif. Apalagi kalau mengingat jiwa yang bertumbuh dan semakin kuat, justru biasanya dari pengalaman yang kita tuding sebagai kekalahan dan kegagalan.
Akhirnya, pada awal tahun ini, di dalam setiap detik baru ini, mari kita cintai setiap detik tersebut, setiap momen, apa adanya.
1/19/2009 12:03:00 PM | Labels: illumination, innocent me | 4 Comments
perubahan membawa rasa syukur
Di beberapa sudut di
Diantara baliho itu saya melihat 3 orang Caleg adalah teman-teman semasa sekolah dulu. Si A adalah teman SD. Si B dan C adalah teman SMA.
Melihat mereka berlomba ikut menjadi Caleg bukanlah merupakan hal yang mustahil di zaman sekarang ini. Zaman dimana kebebasan berpolitik sudah menjadi seperti permainan.
Saya tidak iri. Justru saya kagum dengan mereka (tapi tidak berarti saya suka dengan politik). Mereka yang semasa sekolah dulu adalah anak sekolah yang hanya punya kemampuan rata-rata, sekarang telah menjadi kebanggaan. Kebanggan untuk keluarga, parpolnya, maupun diri mereka sendiri.
Saya lantas terenyuh dan bertanya. Sampai dimana kemajuan saya selama ini? Hal apa yang bisa membuat keluarga bangga atau paling tidak membuat saya bangga terhadap diri sendiri?
Ini tidak membuat saya sedih. Saya tahu, saya sedang mengamati apa yang disebut perubahan. Satu hal paling alami yang semua orang akan mengalaminya. Sebuah hal tunggal yang menjadi awal dan akhir masalah tanpa kecuali. Hari ini hidup saya baik-baik saja. Tapi mungkin besok saya tidak akan baik-baik saja. Begitu terus atau sebaliknya. Selalu ada siklus perubahan di dalam hidup. Mungkin inilah yang disebut bahwa hidup itu tidak dapat diprediksi.
Benar kata orang bijak bahwa perubahan adalah satu-satunya yang pasti dalam hidup. Meskipun demikian kita tidak lantas pasrah dengan perubahan itu.
Tuhan tidak menciptakan makhluknya dengan sia-sia. Yakinlah bahwa ada potensi disetiap diri kita. Mungkin Tuhan tidak ingin saya menjadi ini karena lebih baik jika menjadi itu. Mungkin Tuhan ingin saya melakukan ini karena lebih baik jika tidak melakukan itu. Kita berada di porsi masing-masing.
Karena perubahan adalah satu hal yang pasti, maka jika kita ingin mengalir di dalam hidup, kuncinya adalah menerima bahwa perubahan itu selalu ada. Berubah ke arah mana pun dan kapan pun juga. Semakin kita menerima bahwa perubahan itu pasti ada, maka semakin mudah kita mengalir dengan hidup.
Saya tahu walaupun ini terdengar sulit, tapi hal positif yang membuat saya bangga adalah saya bersyukur dengan apa yang telah saya raih selama ini. Bersyukur saya mempunyai kehidupan yang baik. Terus bersyukur bahwa saya memiliki pekerjaan yang baik. Bersyukur saya bekerja dengan cinta, tidak bekerja di bawah tekanan. Saya bersyukur karena saat ini tidak termasuk di dalam 9,43 juta jiwa pengangguran yang ada di
12/06/2008 11:58:00 AM | Labels: illumination | 7 Comments
Patient has Limit
Seorang kerabat jauh datang ke rumah saya di sabtu pagi. Ditemani seorang sipir dia hanya diberi waktu 2 jam untuk bersilaturahmi dengan orang tua saya. Sekedar meminta pencerahan. Saya tidak pasti berapa usianya, seusia ataukah lebih muda dari saya. Dia datang dari LP. Ya, Lembaga Pemasyarakatan tempat orang-orang yang dinyatakan bersalah. Tempat orang-orang apa yang disebut ‘bukan manusia seutuhnya’ karena telah melakukan tindakan kriminal. Bukan sebuah tempat pilihan untuk orang-orang yang masih beruntung seperti kita.
Kesan pertama yang terlihat adalah dia sesungguhnya orang yang baik. Tidak ada perasaan takut ketika berbicara banyak dengan dia. Orangnya murah senyum dan suka tertawa. Walaupun kadang dia sedikit gugup. Hukuman
Mengingat apa yang telah terjadi di masa lalunya, ketika akhirnya dia membunuh pamannya sendiri. Hanya persoalan sepele. Dia cuma merasa sakit hati karena pamannya saat itu perang mulut dengan ayahnya. Yang pada akhirnya berakhir dengan perang fisik. Sekali lagi, dia sesungguhnya orang yang baik. Hanya karena didorong loyalitas kepada ayahnya maka dengan tega membunuh pamannya sendiri.
Ini adalah masalah kesabaran. Ketika seseorang tidak lagi mempunyai rasa sabar, kita akan merasa dipecundangi oleh keadaan. Sabar tidak lagi menjadi hal yang penting dijalani ketika muncul akumulasi kemarahan dan kekecewaan yang selama ini ‘tertidur lelap’ di dalam hati. Lantas sampai dimana batas kesabaran seseorang? Yang sesungguhnya kita rasa bahwa kita telah menjadi orang yang sabar, membenarkan keadaan yang kadang bertentangan dengan hati kita sendiri. Itu sudah cukup mengetahui batas kesabaran kita. Walaupun ternyata ada yang lebih penting. Mengukur kesabaran sama dengan berapa banyak pupuk yang diberikan pada padi supaya lebih subur. Dipupuk dan diberi anti
Sewaktu sabar kita berada di zona yang nyaman. Kita tidak lagi menjadi sabar ketika tidak ada lagi perasaan aman. Merasa terancam dan tertekan. Ketika rasa sayang dan cinta disapu perasaan amarah. Dan pada akhirnya kita keluar dari zona nyaman itu.
Jadi tidak perlu tercengang jika seseorang kemudian bertindak anarkis. Jangan heran ketika seorang istri dengan santai memutilasi suaminya sendiri. Dan jangan kaget ketika Narko, kerabat jauh saya itu, dengan sebilah celurit menebas leher pamannya. Mungkin
11/10/2008 07:54:00 PM | Labels: illumination | 11 Comments
Happy Ied
Ucap tak terdengar,
Tangan tak berjabat,
Tapi dari hati yang tulus dan ikhlas, saya mengucapkan
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
9/28/2008 02:34:00 PM | Labels: illumination | 17 Comments
Attention
Sekedar info aja nih. Saya anggap ini penting untuk disharing di sini. Semoga bermanfaat ya…
Bagi teman-teman (kalo orang Bank bilang nasabah) yang masih punya urusan dengan Bank, diselesaikan aja sampai tanggal 29 September 2008. Karena Bank akan libur secara Nasional sejak tanggal 30 September – 5 Oktober 2008 dan akan beroperasi secara normal pada tanggal 6 Oktober 2008. Jadi Bank akan libur selama 6 hari berturut-turut. Nah karena itu, semua transaksi perbankan seperti penerimaan dana, penarikan dana, kliring ataupun transfer melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) akan terbatas. Atau kalo yang ingin kirimin saya duit buruan aja deh hahah…
Tapi jangan khawatir, walaupun Bank libur pada tanggal segitu, ATM masih tetap beroperasi kok. Ternyata gak cuma suami yang Siaga ya, ATM juga heheh...
9/24/2008 11:51:00 AM | Labels: illumination | 5 Comments
Festival Perairan Pulau Makassar
Di mana-mana udah dipasang spanduk-spanduk untuk ikut memeriahkan Festival Perairan Pulau Makassar ini. Sepertinya Pemkot Bau-bau benar-benar mempersiapkan Festival ini dengan matang.
Lomba renang tradisional diikuti 200 peserta. Gak hanya orang-orang dari kota Bau-bau yang ikut. Peserta dari Kendari juga ada. Jarak yang ditempuh renang tradisonal ini sepanjang 2,3 km. Hueks, jauh banget. Saya gak mampu deh. Udah gitu harus melintasi arus laut yang lumayan kencang. Makanya sebelum mengikuti lomba ini, peserta harus ikut tes kesehatan dulu. Kalo peserta ada yang udah gak mampu di tengah lintasan, harus mengangkat tangan supaya segera diberi pelampung.
Pemenang lomba renang ini untuk putra dan putri adalah peserta dari kota Kendari. Usianya masih muda loh. Yang putra berusia 15 tahun, yang putri berusia 11 tahun. Wah, kalah deh heheh...oh ya, ada juga satu bule yang ikut, dia menang diurutan 27. Peserta termuda laki-laki berusia 9 tahun. Ih, masih imut. Kasian loh, abis renang langsung dikompres pake air hangat. Soalnya dia udah gemetaran kedinginan. Tapi anak kecil ini hebat, bisa berada diurutan 16.
Btw nih, ada yang menarik yang saya rasa selama lomba-lomba dan kegiatan yang melibatkan laut dan laut ini. Selama lomba dan kegiatan dari pagi sampai sore, cuaca nampaknya sangat bersahabat. Langit masih biru, awan berwarna abu-abu tapi gak hujan bahkan gerimis pun gak ada, angin bertiup, dan gak ada matahari terik di siang hari. Bener-bener enjoy dan gak kepanasan deh. Apa pawang cuacanya yang berhasil ya?
Saya balik ke rumah jam 11 teng. Istirahat selama 2,5 jam, trus saya bareng teman-teman nyebrang ke Pulau Makassar. Niatnya mo naik katinting saja, tapi waktu kita nyampe, yang ada hanya speedboat kecil. Cuma bayar 5000 perak (daripada berenang), kita udah nyampe di Pantai Lakorapu dalam waktu 10 menit.
Di pantai udah disediakan jet ski, boat dan flying fishnya, banana boat dan alat snorkel. Sayang banget saya gak bisa ikut bersnorkel dan berdiving ria. Ada sih alatnya, tapi celingak-celinguk gak ada si empunya *mo minjem maksudnya. Ternyata waktu liat di tengah laut ada 3 biji kepala di permukaan laut. Pasti itu para diver. Hih, takut ah kalo turun ke laut sendirian. Peraturan pertama kalo diving : minimal harus 3 orang atau lebih kalo mo nyelam. Ya udah, saya akhirnya gabung sama anak-anak (orang) berbanana boat. Itung-itung mengobati masa kecil yang kurang bahagia di laut Hahah…
Ugh, saya ngeces waktu liat jet ski dan flying fishnya. Tapi dasar Indonesia, di mana-mana nepotisme tetap aja ada. Yang naik malah si bos-bos berperut gendut, istri dan anak-anaknya. Huh, tunggu aja nanti, kalo saya udah jadi Wali Kota, saya akan beli 10 biji jet ski…tapi dari kayu Heheh…
7/22/2008 05:25:00 PM | Labels: illumination, journey | 12 Comments
A journey to Buton Island
Jadi begitulah, mengagumi ciptaan Allah gak harus selalu mengagumi cowok cakep
7/18/2008 09:44:00 PM | Labels: illumination, journey | 7 Comments
