ABC : Acceptance Before Change

Dari beragam kompleksitas peristiwa, situasi, dan masalah dalam kehidupan kita, tahukah kamu ada dua elemen yang senantiasa hadir satu sama lain dalam hidup kita? Kedua hal itu bagai mitra abadi yang bernama ‘perubahan’ dan ‘penerimaan’.
Kita semua tentu pernah mengalami masalah karir, rejeki, cinta, kesehatan serta segala masalah hidup. Teka-teki besarnya adalah apakah kamu bisa menemukan satu hal tunggal yang mengawali dan mengakhiri setiap masalah? Sebagai petunjuk tambahan, hal tunggal ini merupakan hal yang sama untuk setiap jenis masalah. Renungkan baik-baik, karena memahami ini menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah apa pun.
Petunjuk baru lagi, meskipun zaman sudah berkembang dan kompleksitas kehidupan manusia juga terus berganti, namun hal tunggal ini senantiasa menjadi awal dan akhir setiap masalah, tanpa kecuali, dan ada sejak awal sejarah manusia hingga sekarang.
Bisakah kamu menemukannya? Jawabannya adalah PERUBAHAN. Setiap masalah yang lahir, selalu diawali dengan ‘kondisi yang dapat diterima’ yang tiba-tiba atau berangsur-angsur BERUBAH menjadi ‘kondisi yang tidak dapat diterima’. Setiap selesainya atau tuntasnya suatu masalah, selalui ditandai dengan pergerakan dari ‘kondisi yang tidak dapat diterima’ menjadi ‘kondisi yang dapat diterima’. Dengan kata lain, siklus hidup selalu berputar antara ; (1) kondisi MENERIMA kenyataan, (2) terjadi PERUBAHAN, (3) kondisi TIDAK MENERIMA kenyataan, (4) terjadi PERUBAHAN, (5) kondisi MENERIMA kenyataan, (6) terjadi PERUBAHAN, dan seterusnya berulang hingga kehidupan ini usai. Kisah, situasi, peristiwa dan pemerannya bisa berganti 1007 kali, namun siklus ini akan tetap berulang terus-menerus.
Dalam siklus yang saya ceritakan, tidak sulit untuk memahami bahwa hidup ini adalah seperti dansa yang silih berganti antara perubahan dan penerimaan. Di dalam dansa abadi ini, terseliplah pengalaman rasa yang kita sebut dengan stres, sedih, susah, bahagia, lega, khawatir, takut, cemas, tenang, damai, dll.
Pertama, marilah kita melihat mitra abadi yang bernama ‘perubahan’. Perubahan adalah bagian paling alami dalam hidup. Ada datang, ada pergi. Ada untung, ada sial. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada sehat, ada sakit. Ada senang, ada sedih. Ada lega, ada beban. Ada hidup, ada mati. Tidak ada satu orang pun, termasuk orang suci sekali pun, yang bisa terbebas dari dualitas ini.
Memang sangat wajar jika kita ingin menumpuk sehat, senang, untung, dan ingin menapik sakit, sedih dan sial. Tetapi kebijaksanaan jiwa sejati hanya bisa tumbuh ketika kita mengerti dan menerima bahwa kedua sisi tersebut pasti akan hadir, tidak bisa dicegah, tidak bisa dipertahankan, karena kekuatan ‘perubahan’ akan selalu mengayunkan nasib kita dari satu sisi ke sisi lainnya bagai bandul kehidupan.
Seperti pepatah yang mengatakan – ‘satu-satunya yang pasti dalam hidup adalah perubahan’, maka kalau kita ingin lebih mengalir dalam hidup, kuncinya adalah MENERIMA bahwa perubahan itu selalu ada, dan perubahan tersebut bisa saja berubah ke arah mana pun dan kapan pun juga. Semakin cepat kita mengerti dan menerima ini, maka semakin mudah kita ‘mengalir’ dengan hidup.
Ketika kita mengerti bahwa perubahan tidak bisa kita atur atau dikendalikan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan kehendak dan kepentingan kita, maka kita mulai memikirkan bagaimana jalan keluar dari masalah. Jalan ‘keluar’nya adalah melangkah ‘kedalam’. Situasi di luar tidak selalu bisa kita kendalikan, namun menerima dan tidak menerima adalah sebuah pilihan yang kita semua miliki. Memang benar bahwa menerima tidak selalu mudah, namun merupakan jalan keluar yang selalu realistis.
Kalau sudah tiba pada kesimpulan bahwa hidup ini adalah pilihan antara menerima atau tidak menerima, pertanyaan alamiah selanjutnya adalah apakah usaha masih diperlukan dalam hidup?
Di satu sisi, kita punya ‘sistem keyakinan’ yang menyatakan bahwa tidak mungkin kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan, atau mengatasi suatu masalah, atau mengubah keadaan kalau tidak berusaha dan berupaya. Namun kita juga punya bukti nyata bahwa terkadang usaha pun tidak membawa perubahan hasil dan kenyataan.
Di lain sisi, ada juga keyakinan bahwa takdir, kehendak Tuhan serta karma lah yang menentukan kenyataan. Jadi meskipun kita berusaha, namun hasilnya tidak tergantung dari usaha tersebut semata. Sehingga terkadang lahirlah sikap hidup yang pasrah total sekaligus meniadakan usaha.
Terus terang, saya tidak anti pada konsep usaha dan upaya. Tapi saya juga merasa kadang usaha, apalagi sampai ngoyo, yang tidak diimbangi dengan keikhlasan dan kepasrahan, seringkali membawa rasa frustasi dan kekecewaan.
Jalan keluar yang paling lazim kita tempuh ketika ingin mengubah kenyataan atau menyelesaikan suatu masalah adalah pertama-tama berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan perubahan situasi dan pada akhirnya menerima hasil akhirnya, baik menerima dengan ikhlas maupun terpaksa.
Tetapi mengingat bahwa kenyataan tidak semata-mata tergantung pada usaha kita, ada jalan lain yang tidak selalu lazim. Inilah jalan yang saya sebut ABC, Acceptance Before Change.
Jalan ini adalah ketika kita bisa mengerti bahwa perubahan pasti terjadi, dengan maupun tanpa usaha. Langka pertamanya, menerima tanpa syarat apa pun kenyataan yang ada saat ini, apa pun perilaku dan sikap orang yang terlibat saat ini, serta apa pun pikiran dan perasaan kita saat ini. That’s the point. Apa pun perubahan yang hadir setelah kita sudah bisa menerima, jauh lebih mudah untuk menyambutnya dengan pikiran jernih dan hati yang lapang.
Saya harus mengakui bahwa ini bukan jalan pikiran yang umum. Tapi bagi mereka yang sudah pernah mengalami dalam hidupnya, mereka juga pernah menyaksikan betapa ajaibnya situasi bisa berubah, ketika masalah yang sedang dihadapi diterima sepenuh hati.
Barangkali pikiran terakhir yang saya sadari tentang betapa pentingnya kita menerima segala sesuatu yang ada saat ini, sebelum perubahan bisa terjadi adalah berikut ini; jika kita mencoba untuk mengubah diri, masalah maupun situasi melalui berbagai daya upaya, tanpa kita terlebih dahulu menerima diri sendiri apa adanya, maka meskipun situasi tersebut berhasil kita ubah, kita tidak akan pernah puas dan bahagia.
Dulu saya berpikir bahwa kebahagiaan adalah mendapatkan apa yang saya inginkan. Tetapi sekarang saya melihat bahwa kebahagiaan adalah ketika tidak ada perselisihan antara keinginan dan kenyataan. Oleh karena kenyataan tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya, maka mengelola keinginan menjadi kunci saya untuk bahagia. Dan kunci tersebut bernama ‘menerima sepenuh hati’.
Pilihan dan upaya tidak menghasilkan kenyataan hidup saat ini. Pilihan dan upaya adalah ‘permainan’ yang kita perlu lakukan untuk tiba pada kesiapan untuk menerima dan berserah total pada hidup, takdir dan Tuhan.
Selamat bermain, para sahabatku

2 comments:

ichal said...

konsep hidup yang cukup keren dalam pemaparan.


tapi kok kurang sependapat jika dianggap sebuah "permainan". bukankah sudah terlalu banyak yang bermain-main :)

makassih sudah singgah ke blog saya.

Munif Kaqie said...

hehehe....perubahan akan selalu ditemui..dihadapi..dijalani..dan...dinikmati..sampai perubahan lain muncul...