Signature doesn’t matter
Disela pelatihan akhir bulan lalu, gak sengaja pak Yusuf, peserta dari Purwokerto melihat tanda tangan saya di cover materi pelatihan (biasa kan, ditandatangani dan dikasih nama). Pak Yusuf menyodorkan selembar kertas lagi untuk saya tanda tangani. Ow, serasa artis deh dimintain tanda tangan. Bapak itu mau meramal dengan melihat tanda tangan saya.
“Kamu itu orangnya tertutup yah…Jalan hidup kamu itu berliku dan banyak rintangannya…Sepertinya lagi banyak masalah…Banyak sekali yang kamu pikirkan saat ini…Tapi masa depan kamu nanti bagus kok”.
Saya melongo aja. Hormati orang tua iya, tapi sebel juga dibilang lagi banyak masalah. Masa sih? Rasanya saya fine-fine aja.
Gak bermaksud protes, tapi saya bilang begini. “Saya gak tertutup kok, pak. Lagian kita kan baru kenal, pak. Ini sih casingnya aja heheh…Gini loh, pak. Saya itu kalo baru kenal orang emang pendiam. Yah namanya makhluk idup kan perlu beradaptasi. Tapi kalo udah kenal dekat saya ini cerewet loh, pak. Dan kalo menurut saya yah pak, hal-hal apapun yang ada dan kita alami dalam hidup, kan ada yang perlu diceritain dan ada yang gak perlu diceritain ke orang. Ada privasi dan batasannya gitu”.
Saya dan pak Yusuf bicara dengan volume yang kecil. Soalnya sambil dengar materi pelatihan. Gak sopan.
“Bapak kok bilang saya banyak masalah? Gak ada masalah tuh, pak”
“Tapi kamu pasti ada masalah”
Loh, orang gak ada masalah kok dipaksa punya masalah? Gimana sih pak Yusuf ini. Aneh.
“Bisa keliatan kok dari tanda tangan kamu ini” sambil nunjuk ke tanda tangan saya.
Oalah, jadi karena tanda tangan saya yang panjang dan banyak garisnya maka itu banyak masalahnya? Hahah…
Saya jelasin, kalo tanda tangan saya itu sama sekali gak ada artinya. Panjang begitu cuma untuk meringkas nama panjang saya dalam bentuk tanda tangan. Garis yang berulang itu cuma ciri kita dulu yang kuliah di jurusan Arsitektur. Gak lebih. Mending tanda tangan saya, ada tanda tangan dosen saya yang njelimet minta ampun. Banyak garisnya, ada lingkaran dan segitiganya. Jadi gak bisa dipalsuin heheh…
Jadi menurut saya sih, saya gak begitu percaya dengan ramalan. Kalo yang baik, okeh mungkin bisa dipertimbangkan sekaligus menyenangkan hati. Tapi kalo yang buruk, gak mau percaya deh. Bikin gak enak hati huhuh…
9/12/2008 03:59:00 PM | Labels: innocent me, nonsense | 10 Comments
Dolan ke Solo – part 2
Keraton Solo - Tampak bagian luar dan bagian dalam
Perpaduan gaya kolonial dan rumah adat Jawa. Ada aturannya ketika ingin masuk ke dalam kompleks Keraton. Gak boleh pake sandal, gak boleh pake topi, gak boleh pake kacamata hitam, dan gak boleh merokok (saya senang aturan yang ini, karena gak suka bau asap rokok). Coba lihat gambar aturan di bawah ini.
Nah, karena saya waktu itu pake celana tanggung (setengah betis atau 7/8), saya harus pake rok panjang yang udah disediakan. Dan karena saya pake sandal, lagi-lagi harus nyeker alias bertelanjang kaki waktu masuk ke dalam keratonnya. Syukur deh semua permukaan tanahnya dari pasir yang halus. Jadi kaki gak sakit atau lecet. Konon, pasirnya diambil dari pantai laut selatan. Karena Pakubuwono di Solo yang berkerabat dekat dengan Hamengkubuwono di Jogja punya hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul di laut Selatan.
Keluar dari halaman Keraton, saya mampir ke Museumnya. Isinya banyak lah. Foto-foto keluarga Keraton, perabot kerajaan jaman dulu, alat prosesi pernikahan keluarga Keraton, dan lain-lain.
Salah satu perabot yang ada di dalam Museum Keraton
Duduk di tandu manten putri - berharap semoga cepat seperti patung yang disebelahnya heheheh...
9/04/2008 08:57:00 AM | Labels: journey | 15 Comments
Dolan ke Solo – part 1
Sebulan yang lalu emang sok sibuk aja kok. Selain karena masih anget-angetnya jatuh cinta dan menyusun sejuta rencana dan mimpi bersamanya…
Okeh, sebelum dinas ke Jakarta akhir bulan lalu, saya jalan-jalan ke Solo, kota yang terkenal dengan kota batik. Saya pernah tinggal dan kerja di kota ini selama setahun, waktu itu masih fresh graduate. Jadi gak takut nyasar deh di Solo.
23.08.2008 - Tiba di Bandara Adi Sucipto Jogja jam 1 siang, saya langsung ke Solo naik kereta Prambanan Express. Syukurlah di depan Bandara sekarang udah ada Stasiun kereta Maguwo. Jadi gak perlu ke Stasiun Tugu atau Lempuyangan. Sejam kemudian tiba di Stasiun Balapan Solo. Terngiang lagu ‘Stasiun Balapan’ nya Didi Kempot hihihih…
Istirahat dulu sampe sore, setelah magrib saya jalan-jalan nyari makan di kawasan Beteng. Di tempat ini ada tempat makan yang namanya Galabo (Gladak Langen Bogan). Tempatnya cozy banget. Walaupun siang hari jalan ini macet karena dilewatin kendaraan, tapi malam hari tempat ini disulap jadi tempat makan yang nyaman. Karena malam hari jalan ini ditutup untuk kendaraan dan hanya diperuntukan untuk pejalan kaki. Parkiran kendaraan berada di depan jalan masuk Galabo.
Nasi-ikan kakap bumbu bakar-lalapan-pete-sambel terasi yummyyy...
Nasi liwet - gak bisa makan berdua pacar, abis porsinya dikit sih huhuhu...
Di depan Beteng Trade Center ada pertunjukan perkusi barang-barang bekas diiringi gitar dan ada juga yang baca puisi. Wow, orang-orang yang sangat kreatif. Barang-barang bekas seperti botol, galon air mineral, pelek sepeda, bambu, panci bekas, jergen minyak tanah dan drum air, ditabuh menjadi beberapa irama lagu. Apalagi waktu bawain jingle Marlboro. Keren banget.
9/01/2008 04:23:00 PM | Labels: journey | 6 Comments
