Loser

Berapa banyak lagi kebohongan yang akan kamu tawarkan? Berapa puluh lagi kata-kata cinta, kebahagian dan janji manis yang akan kamu ucapkan?
Saya bertemu kamu lagi, wahai pria, hanya dalam sebuah “kebetulan”. Yang kebetulan saja saya sudah mengenal kamu beberapa tahun yang lalu, dan kebetulan juga saya tidak mengetahui seperti apa kamu sebenarnya. Bodohnya, saya begitu saja menerima kamu.
Padahal seseorang yang bijak pernah berkata untuk tidak terburu-buru. Jangan pernah mencoba mencintai seseorang kalau kamu belum bisa mencintai diri sendiri. Saya mencintai diri sendiri, tapi ternyata saya terlalu mencintai orang yang salah.
Saya menghargai kesetiaan, tapi bukan berarti kejujuran bisa seenaknya kamu permainkan. Hey pria, bermain cantik lah. Tidakkah kamu tahu selama ini kamu sudah berhasil membangun kastil kebohongan dalam dirimu sendiri? Yang mungkin telah beberapa kali kamu hancurkan dan membangunnya kembali. Sementara saya? Dalam kesendirian yang mengagumkan ini saya telah berhasil menata rumah kecil dengan berjuta kejujuran di dalamnya.
Saya tidak perlu kecewa atau sakit hati mengingat kebodohan kamu dan kebodohan saya, karena itu adalah kebodohan kita. Saya tidak perlu menangisi kemunafikan kamu karena sedikit berhasil membuai angan-angan saya. Tidak perlu. Semua hanya membuang-buang waktu dan tentu saja akan mematikan pikiran logis saya.
Biarkan saat ini saya memilih untuk tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Tidak perlu takut saya akan mengganggu kehidupan kamu. Saya punya kehidupan sendiri. Toh dalam waktu sepersekian detik saya mampu melupakan pria pengecut seperti kamu.

3 comments:

retrospectext said...

True story kah?
Si penjual Siomay?
Ck ck ck so fast!

try said...

wakakakakakaka... bisanya inul!
bukan penjual siomay kasian, tapi penjual janji2 manis, huh! I don't give a damn him!

y@t said...

eheeemm lagi :P